Kimiko, Masih Disegani Petenis Muda

Kimiko, Masih Disegani Petenis Muda

Nusa Dua, Bali (ANTARA) - Setelah memenangi gelar WTA Tour kedelapannya di Seoul September lalu, nama petenis Jepang yang satu ini kembali mencuat.

Bukan karena gelar kedelapan itu, karena delapan gelar bukanlah sesuatu yang istimewa.

Yang menjadikan peristiwa itu cukup luar biasa adalah, gelar tersebut diraih saat sang petenis sudah mencapai usai 39 tahun, dan sebelumnya sudah pensiun selama 12 tahun.

Itulah yang membuat penyelenggara turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions memberi kesempatan padanya untuk ambil bagian dalam turnamen tutup tahun bagi para juara turnamen WTA kategori International, dengan fasilitas wildcard.

Dialah Kimiko Date Krumm, peraih delapan gelar sepanjang karirnya. Tujuh gelar diraih pada periode 1992-1996 dan yang terakhir diraihnya tahun ini, 13 tahun sesudahnya.

Petenis kelahiran 28 September 1970 itu memang tidak mudah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk bersaing dengan petenis-petenis muda. Ia kalah dalam pertandingan pertamanya pada turnamen di Bali itu oleh pemain muda asal Belgia Yanina Wickmayer.

Yanina, semifinalis AS Terbuka tahun ini, yang pada 20 Oktober lalu baru menginjak usia 20 adalah petenis termuda dalam turnamen berhadiah 600.000 dolar tersebut. Ia mengalahkan Kimiko dalam dua set langsung 6-7, 3-6.

Namun sehari kemudian, Kimiko segera memperbaiki kegagalan itu dengan menundukkan petenis Spanyol Anabel Medina Garrigues (27) dengan skor 6-4, 6-3.

Setelah mengalami sekali kekalahan dalam pertandingan Grup C, sebenarnya peluang Kimiko untuk maju ke semifinal tidaklah besar karena di atas kertas semula Yanina lah yang paling berpeluang.

Selain menjadi unggulan ketiga, Yanina yang berperingkat 18 dunia juga mempunyai catatan pertemuan yang lebih baik dengan Anabel setelah ia memenangi satu-satunya pertemuan di antara mereka.

Namun semua itu berubah dalam sekejap saat Yanina Wickmayer secara mengejutkan menarik diri dari turnamen setelah lembaga anti doping di negaranya Belgia menjatuhkan sanksi skorsing selama satu tahun.

Perginya Yanina di saat ia harus menyelesaikan pertandingan babak grup melawan Anabel, Jumat, membawa Kimiko lolos ke semifinal.

Mundurnya Yanina membuka peluang bagi pemain cadangan Vera Dushevita untuk tampil dalam kejuaraan yang hingga 2011 masih akan digelar di Indonesia itu. Namun, Vera yang akhirnya menang atas Anabel 2-6, 6-1, 7-5, tidak bisa maju ke semifinal karena terhalang aturan bahwa petenis yang bisa lolos ke semifinal hanya mereka yang tampil duakali.

Nasi goreng

Kimiko yang menikah dengan pembalap asal Jerman Michael Krumm itu mulai mengayun raket saat berusia enam tahun dan mulai menjalani karir tenis profesional sejak 1989.

Ia diperkenalkan dengan olahraga tersebut oleh kedua orangtuanya, Juichi dan Masako yang dua-duanya pemain tenis.

Ia kemudian menjadi juara di Sonoda, sekolah menengah tempat ia menimba ilmu hingga lulus pada 1989, dan membuat debutnya pada tenis grand slam saat ambil bagian dalam Prancis Terbuka 1989 di mana dia tersingkir pada putaran kedua.

Petenis yang membela negaranya dalam Olimpiade 1992 di Barcelona dan Atlanta pada 1996 itu mencapai 10 peringkat teratas dunia pada 1994 setelah mencapai semifinal Australia Terbuka.

Saat berusia 25 tahun, dia mencapai peringkat empat dunia, peringkat tertinggi yang pernah dicapainya setelah ia kembali mencapai semifinal grand slam, kali ini di Rolland Garros.

Selain di Australia dan Prancis, petenis yang lahir kidal itu juga mencapai empat besar di Wimbledon, namun di AS Terbuka hasil terbaiknya adalah perempatfinal yang pernah duakali diraihnya, pada 1993 dan 1994.

Di sela-sela kesibukannya, selain menyukai traveling, Kimiko juga mengaku gemar mencicipi makanan dari berbagai negara.

"Tentu saja saya suka sushi, tetapi saya juga menggemari makanan China, Thailand dan Prancis," kata petenis yang gelar WTA pertamanya sejak kembali dari istirahat 12 tahun, di Seoul Korea menjadikannya petenis tertua kedua yang meraih gelar WTA setelah Billie Jean King pada era "Open".

Jean King memenangi gelar di Birmingham pada 1983 saat berusia 39 tahun tujuh bulan 23 hari, sementara Kimiko, juara di Seoul sehari menjelang ulangtahunnya yang ke-39.

Soal makanan Indonesia, peraih "Most Improved Player Award" pada 1992 yang akan berhadapan dengan unggulan pertama Marion Bartoli di semifinal itu mengatakan, "Saya suka nasi goreng dan mie goreng."

Artikel Terkait