Tapaktuan (ANTARA) - Sekawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang diperkirakan berjumlah tiga ekor dan seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), dilaporkan masih berkeliaran di kawasan pemukiman penduduk di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh.
Camat Tumon Timur, H Lahmuddin di Tapaktuan, Selasa mengatakan, sekawanan gajah liar yang diperkirakan berjumlah tiga ekor telah merusak dua unit gubuk warga Desa Naca.
"Sudah beberapa hari ini sekawanan gajah liar kembali memasuki perkampungan penduduk. Gajah-gajah itu menyeruduk dan meninjak-injak dua gubuk milik warga Desa Naca hingga rusak," kata Lahmuddin.
Selain merusak gubuk, satwa dilindungi itu juga merusak puluhan hektare tanaman di lahan pertanian dan perkebunan, seperti tanaman sawit, jagung, pisang dan pohon kelapa.
Menurut Lahmuddin, selama sepekan terakhir intensitas gangguan gajah liar di Kecamatan Trumon Timur itu mengalami peningkatan, akibatnya, aktivitas petani di daerah itu menjadi terganggu.
"Warga sangat ketakutan untuk beraktivitas di kebun, sebab dua tahun lalu seorang penduduk meninggal dan beberapa orang lainnya cidera setelah diamuk dan diinjak-injak satwa berbadan besar itu," katanya.
Keberadaan kawanan binatang berbelalai itu juga telah menimbulkan ketakutan, terutama pada malam hari, bahkan warga tidak berani keluar rumah.
H Lahmuddin berharap, pemerintah dan lembaga yang konsen terhadap satwa dan lingkungan hidup, serta Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), segera dapat menanggulangi masalah satwa yang muncul di daerah yang berbatasan dengan Kota Subulussalam itu.
"Warga sudah tidak tahu harus berbuat apa, dan hanya mampu menyaksikan ketika kawanan gajah merusak dan melahap tanaman pertanian milik mereka," ujarnya.
Sementara upaya pengusiaran secara tradisional, sudah sering mereka lakukan, namun tak mendatangkan hasil, kata Lahmuddin, menambahkan.
Camat Tapaktuan Erwiandi yang dihubungi terpisah menyebutkan bahwa wilayahnya belakangan ini "ketamuan" binatang buas, yakni harimau.
"Seekor harimau dilaporkan telah memangsa belasan ternak ayam dan bebek milik warga di Desa Jambo Apha," ujarnya.
Dikatakan, beberapa minggu lalu seekor harimau betina berhasil ditangkap di desa itu, namun gangguan satwa tersebut masih saja terjadi, bahkan belasan ternak tercatat sudah dimangsa.
Erwiandi mengaku sudah melaporkan adanya gangguan harimau seperti itu kepada pihak BKSDA Aceh Selatan.
"Kami harapkan lembaga tersebut dapat menangkap atau menggiring binatang buas itu kembali ke habitatnya," katanya, mengharapkan.
