Jakarta (ANTARA) - Gerakan Pemuda Ansor menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) harus dipimpin oleh ulama yang benar-benar mewakili sosok organisasi itu, yaitu ulama yang berjiwa pemersatu dan tidak terlibat politik praktis.
"Kita ingin rais aam (pemimpin tertinggi di NU) dipegang oleh kiai yang selama ini mempunyai rekam jejak yang benar-benar merepresentasikan NU, berjiwa pemersatu, serta tak terlibat konflik maupun dukung-mendukung," kata Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf di Jakarta, Selasa.
Dengan memenuhi kriteria seperti itu, lanjut pria yang akrab dipanggil Gus Ipul itu, diharapkan rais aam benar-benar bisa menjadi pemutus ketika ada persoalan dan keputusannya tersebut akan diikuti dengan penuh hormat.
Menurut Gus Ipul, sosok yang pantas menduduki jabatan itu antara lain KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, KH Tolchah Hasan, dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus).
"Kalau tiga serangkai ini yang memimpin NU, sebagai rais aam dan wakil rais aam, pasti dahsyat. Sebab, mereka inilah contoh ulama yang konsisten dengan jalurnya, jalur keulamaan, jauh dari politik praktis," katanya.
Menurut Gus Ipul, tidak pernah berurusan dengan politik praktis menjadi syarat wajib bagi calon pemimpin NU, sebab NU ke depan harus kembali kepada jati dirinya sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan, sebagai kekuatan moral, sebagai payung yang menaungi semua elemen bangsa.
"Karena itu ke depan tidak perlu lagi ada kontrak jamiyah bagi calon pemimpin NU. Buat apa ada kontrak kalau akhirnya dilanggar. Harus dipilih sosok yang memang pada dasarnya tidak tertarik untuk terlibat dalam politik praktis," katanya.
Ketika ditanya soal Kiai Sahal yang dikabarkan tidak bersedia dicalonkan lagi sebagai rais aam, Gus Ipul mengatakan, di NU, justru mereka yang tidak bersedia dicalonkan itulah yang terbaik.
Sementara untuk jajaran tanfidziyah, menurut dia, tidak harus berkapasitas kiai, mengingat tanfidziyah merupakan lembaga pelaksana dari kebijakan yang digariskan syuriah.
Ditanya apakah ia berminat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU, Gus Ipul menyatakan belum pantas menduduki jabatan itu.
"Saya merasa belum pantas, yang muncul sekarang bagus-bagus. Kita tentu berharap muncul wajah-wajah baru," katanya.
Sejumlah nama yang muncul sebagai kandidat ketua umum dalam muktamar mendatang antara lain KH Said Agil Siraj, KH Masdar Farid Masudi, KH Salahuddin Wahid, Ahmad Bagdja, Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Absar Abdalla.
Sementara untuk kandidat rais aam, nama yang muncul antara lain KH Sahal Mahfudh, KH Tolchah Hasan, KH Musthofa Bisri, dan KH Ma`ruf Amin.
