Pemain MU Lebih Dikenal Ketimbang Pahlawan

RAUT bingung dan senyum malu terpancar dari wajah Rahmad Widianto (17), pelajar kelas tiga SMK Kestarian, Purwokerto, saat Kompas memintanya menyebut 10 nama pahlawan kemerdekaan, Jumat (6/11). Lima menit berlalu, hanya dua nama pahlawan yang terucap di bibirnya.

Pattimura... RA Kartini... eee, siapa lagi ya..Wah, inyong wis kelalen maring pelajarane, ucap Rahmat dengan nada menyerah.

Bahkan, Rahmad tak dapat menyebut dua pahlawan terkenal dari daerahnya sendiri, Banyumas, yakni Jenderal Soedirman dan Gatot Soebroto. "Saya sering lihat patungnya, tapi nggak tahu kalau mereka orang sini," ujar dia polos.

Raut cerah langsung tersembul di wajah Rahmat saat diminta menyebut nama-nama pemain klub sepakbola Manchester United. Tak tanggung-tanggung, starting eleven klub jawara Liga Inggris itu meluncur lancar dari bibir Rahmat kurang dari dua menit, mulai dari Edwin Van Der Sar hingga Ryan Giggs.

Susanto Widi Hidayat (15), sedikit lebih mending. Sembari memainkan joy stick perangkat play station-nya, pelajar kelas tiga SMP Negeri 5 Purwokerto ini mampu menyebut delapan nama p ahlawan kemerdekaan. Namun, tetap saja, nama-nama pemain klub idolanya, Real Madrid lebih terukir kuat diingatannya.

Kalau nama-nama pahlawan itu kan dihafalin kalau pas pelajaran, tapi nama-nama pemain sepakbola tiap hari bisa kita lihat di televisi atau saat bermain play station, ujarnya mencoba berargumen.

Namun demikian, baik Rahmad maupun Susanto sama-sama memandang Hari Pahlawan penting untuk tetap diperingati. Mereka telah berjuang. "Jadi, harus terus dihormati,' kata Susanto enteng.

Saat ditanya, apa bentuk penghormatan untuk para pahlawan itu, dua remaja tersebut memiliki jawaban yang sama, "Upacara!"

Keduanya tampak bingung menemukan jawaban atas pertanyaan, selain upacara bagaimana cara memberikan penghargaan kepada para pahlawan. Setelah berpikir panjang, terucap jawaban abstrak dari bibir Susanto, "Terus mengingat jasa-jasa mereka untuk bangsa."

Bukan bermaksud menggeneralisasi degradasi pengetahuan patriotisme di kalangan generasi masa kini. Namun, dialog dengan dua remaja tersebut memberikan kilasan gambar bahwa waktu telah mulai menggeser proksimitas pahlawan di benak dan hati remaja era sekarang.

Pahlawan-pahlawan baru yang deras hadir di televisi dengan segenap kegemerlapannya telah memenuhi hampir semua ruang keberidolaan mereka. Pahlawan bangsa dengan segala sepak terjangnya yang heroik seakan hanya tersimpan di sudut kecil ruang kognitif dan kesadaran mereka.

Bagi budayawan muda Banyumas,Yusmanto, fenomena tersebut bukan hal yang mengejutkan. Sejak era reformasi bergulir, gempuran informasi yang dihadirkan media, khususnya televisi begitu kencang. Anasir-anasir yang hadir dari produk media yang terus mengglobal itu pun menjadi idola dan panutan baru.

Di lain pihak, anak-anak sekolah zaman sekarang rasanya sangat minim diperkenalkan dengan semangat patriotisme itu sendiri. "Upacara memperingati hari pahlawan hanya ritual tanpa upaya membangkitkan kembali jiwa kepahlawanan kepada siswa," paparnya.

Sebagai orang yang pernah merasakan peringatan hari Pahlawan era 1970-an dan 1980-an, Yusmanto merasakan sendiri menurunnya greget jiwa patriotisme itu. Saya SD itu tahun 1970-an. Setiap Hari Pahlawan, guru selalu menuturkan tentang pahlawan-pahlawan dengan segala sepak terjangnya. Di situlah rasanya kami waktu itu terbangun patriotisme kami. "Sayangnya, hal seperti kurang sekarang ini," ungkap Yus.

Di tengah gempuran modernisme, patriotisme semakin menjadi barang langka. Individualisme justru tampak semakin mengedepan. Kita semua tentu tak ingin jebakan individualisme tersebut meruntuhkan jiwa kebersamaan bangsa ini untuk menjadi bangsa besar seperti diimpikan pendiri bangsa ini.

Dalam perjalanan panjang perjuangan para pahlawan bangsa terkandung keagungan jiwa revolusioner. Karena itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya. Demikian Bung Karno pernah berujar. (M Burhanudin)