TEMPO Interaktif, Jakarta - Satuan reaksi cepat bencana dibentuk pemerintah pusat terkait penanganan di tempat kejadian bencana.
"Tapi kenyataan kalau Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) ke daerah bencana, justru bantuan negara lain yang lebih cepat terlihat," ujar Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (10/11).
Agung mengakui tim reaksi cepat ini pernah dibuat pada 2005. Tapi tanpa mau menjelaskan kenapa tim itu tak bekerja, Agung menyatakan keberadaan tim reaksi cepat perlu direvitalisasi.
Tim yang terdiri maksimal 200 personel ini akan berada di bawah kendali Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Anggota tim terdiri dari Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Departemen Pekerjaan Umum, Tentara Nasional Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementrian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Perhubungan, Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Palang Merah Indonesia.
Nantinya akan ada dua unit reaksi cepat, yakni di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta; dan Abdul Rahman Saleh, Malang. Kedua pangkalan tersebut mewakili kawasan barat dan timur Indonesia. "Sehingga tidak kedahuluan dengan negara lain," imbuh dia.
Awal Desember mendatang satuan reaksi ini akan terbentuk. "Sekaligus peringatan (untuk ancaman) tsunami," tambah Agung.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif menyatakan satuan reaksi ini merupakan embrio dari pasukan reaksi cepat Tentara Nasional Indonesia. Keberadaannya tidak melawan Undang-Undang Penanggulangan Bencana (UU No.24/2007). Nanti setelah dibentuk ada latihan teknis di setiap kelompok. Gladi taktisnya akan dipusatkan di Bengkulu.
Ia mengungkapkan dalam penanganan bencana dibutuhkan empat pesawat Hercules C130, pesawat CN 235, pesawat Fokker F50, empat unit kapal dan satu unit rumah sakit terapung.
Agung menambahkan, pemerintah belum akan menambah alat penangangan bencana. "Kami utamakan yang ada dahulu," ujar dia.
Panglima Tentara Nasional Indonesia Djoko Susanto menyatakan siap dengan personil dan material pelatihan. Satuan reaksi akan dilatih secara mililter untuk menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
DIANING SARI